Babbling Space β•‘ Ulfatu Wirdah

One Kind Word Can Change Someone's Entire Day

Monday, December 30

,
Lagi dan lagi akhirnya berakhir.
Demi apa ngabisin setahun cepat banget.!
"Jadi, udah ngapain aja setahun ini paa?? "
Kalau direntetin kayak Kaleidoskop
dari Januari ke Desember udah ngapain aja?
Yang jelas tahun ini penuh dengan evolusi.!
Kalau tahun 2018 kemaren diisi dengan perjuangan skripsh*t, nangis,  sidang, nangis, kerja,  nangis,  lalu wisuda, nangis.
Yaas, tahun lalu kerjaannya mewek mulu, karena cobaan hidup Alhamdulillah lumayan hebat yg akhirnya buat aku jadi kuat. Tsaaah...
Tahun ini diisi dengan kerja, resign,  apply,  refused,  apply,  refused,  apply,  refused,  (ntah sampai berapa kali) yang akhirnya make me confused.
Tapi aku menikmati proses itu, proses perjuangan susahnya nyari kerja.
Dan aku percaya setiap perjuangan sesulit apapun pasti ada inti sarinya. Haaaseqq.
Ya aku yakin itu.  Walaupun kemaren sangat ada perasaan iri sama kawan-kawan seangkatan yg udah pada kerja.
Tapi itu wajar yekan..
Kalau sekarang ini aku mikirnya, dulu kita mungkin sama-sama belajar,  ntah itu di sekolah ataupun masa kuliah.  Sama-sama tamat juga. Tapi tidak
harus sama-sama dalam menjalani kehidupan pra-sekolah ataupun pra-kuliah.  
Semua ada timingnya masing-masing , yekaan.
Dulu aku mandang hidup kayak perlombaan gitu.  Iya bodoh memang!
Life is not Race!

Jangan karena liat teman se-gank udah pada nikah semua, kita jadi terburu untuk menyamai.
Sekarang pemahamanku, tidak ada yg namanya terlambat menikah.
(Itu hanya stigma yg dipake orang dulu yg takut gak laku).
Ada yg nikah di umur 28, 29,30 keatas,  wajar,  wajar aja.  Gak berdosa juga dimata Tuhan, karena yg ngatur Dia semua.
Kenapa kita tetap latah mengatakan itu sebuah keterlambatan??
Gitu juga dengan kerja,  gadak yg terlambat kerja. Selagi kita udah berusaha cari kesana kemari demi kerjaan di tempat yg PAS.
Karena sekali lagi yaa manteman,  Sekali lagi yaa..
LIFE IS NOT RACE!
Dalam hidup tidak ada siapa yg paling bahagia,  dan paling cepat dalam menggapai sesuatu itulah pemenangnya.
Karena hidup itu tempat orang bertahan dan terus berjuang dengan segala bentuk permasalahannya.  Bukan hidup sebagai ajang perlombaan perbandingan antara satu dan lainnya.
Gak gitu yaa gaees...
Saatnya harus kita CUT ini semua.!
Stop untuk hidup atas dorongan "babibu" society, stop untuk compare hidup kita dengan yg lainnya. Karena kita yg punya badan,  kita yg harus menentukan maunya apa.  Bukan karena kata Society.

Oke, ini ceritanya jadi kultum yaa sampai kemana-mana pembahasannya. 
Baiklah, balik lagi ke 2019 udah ngapain aja? 
Seperti yang aku bilang. Segala sesuatu yg dijalani pasti ada inti sarinya,  pasti ada pelajarannya. Itu sebabnya aku sangat mencintai proses.  Karena di dalam proses waktu yg pas buat kita meng-analisa.

Saat ini aku mendadak jadi freelance walaupun masih amatir tapi alhamdulillah bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku tidak menamai itu sebagai kerjaan sih. Iyaa, emang dapat duit juga. Tapi aku bahagia dengan apa yang aku kerjakan sekarang, karena itu aku bisa membantu orang lain dan belajar sesuatu hal yg sebelumnya aku belum tau.
Tidak ada yang sia-sia dalam proses.
Seperti yang aku bilang diatas,  kalau tahun ini penuh dengan evolusi.
Tahun ini memang tahun perubahan bagi diriku. Bukannya kemaren stagnan gitu-gitu aja.  Tapi tahun ini tuh,  yang ngerasa banyak hal yg harus diubah.
Salah satunya pola pikir.
Karena tahun ini, tahun dimana aku punya buaanyaak waktu buat diri sendiri. 
(especially started since 6 months ago)
Healing my self,  make me own decision, semua itu aku lakukan sendiri. And the fact is talking to your self make you feel better! Trust me. Ngomong random di depan kaca aja,  kayak apa yang udah dilakuin sama diri sendiri,  apa yg positif,  apa yg negatif. Dan spontan langsung nemuin jawabannya. Seems weird, but it's work.

Perubahan lainnya yang bikin happy dan kadang bikin nungap juga itu adalah..
Now i'm 55 KG.! Yaa it's too BIG to me now. Gak nyangka aja ternyata ada diangka 50-an lebih. Dulu tuh terakhir nimbang waktu zaman mau lulus SMA itu beratnya gk nyampek 40 Kg,  sekitar 38, 39 Kg. Dan dari situ gak mau nimbang lagi! Bikin sakit hati.
Setelah 3 bulan yang lalu aku memberanikan diri untuk nimbang lagi, karena banyak yang bilang aku makin gemuk. Dan pertama nimbang kemaren 51 Kg, itu rekor sih menurutku. Dan makin lama makin naik sampai kemaren nimbang lagi udah 55 Kg. Pantesan aja tiap selesai makan agak sedikit nungap,  jalan jauh dikit nungap,  naik turun tangga betis mudah gempor. Maybe i have to diet right?  Ohh finally i can said diet like the other girls. I hate this word before.  LOL.
Kenapa orang-orang harus diet.  Tapi sekarang ngerti kok.  hehehe
.
.
.
.
.
Last but not least....
Tulisan terakhir di tahun 2019 ini aku dedikasikan untukmu, Ulfa.
Terima kasih karena sudah menjadi pribadi yang selalu memiliki rasa ingin tahu dan ingin mengerti. Semangatmu untuk terus belajar dari apapun dan siapapun tidak pernah padam karena untukmu, dunia bukan sekadar untuk dihidupi dan didiami, tapi juga dipelajari.
Terima kasih karena sudah memilih untuk berteman dengan siapapun tanpa melihat latar belakangnya dan menghargai orang-orang di sekitarmu.
Terima kasih karena sudah memiliki rasa empati terhadap sekitarmu.
Walaupun masih ada yg menyalahkan niat baikmu tapi kamu tetap menjadi baik.
Ulfa, terima kasih telah mengajariku banyak hal,  terutama tentang rasa sabar.  Walaupun terkadang aku sering membrontak marah tentang keadaan. Tapi sekarang kita jauh lebih tenang menghadapinya.  Terima kasih Ulfa telah mengedepankan logika diatas rasa.  Insya Allah kita akan terus belajar untuk jadi yg terbaik.
.
.
.
Thank you,  Next..
Seperti lagu Ariana grande,  Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk tahun 2019 ini yang telah luar biasa.
And welcome 2020, beautiful numbers for beautiful life.


Bonus foto mukak alakadarnya πŸ˜‚πŸ˜‚

bye 2019.. πŸ’—πŸ’¨

Tuesday, October 1

,

Thursday, September 26

,

Bukan, ini bukan mau ngomongin mbah dukun.  Ini jauh lebih sakti dari mantra sang mbah dukun. Apa itu?
Doa orangtua. 

Yaa itu mantra paling ajaib dalam hidup.
Percaya gak percaya ternyata apapun yang kita lakuin dalam hidup ini selagi dalam ridho orangtua dan diiringi doa mereka, insya Allah kita akan selalu terjaga.

Beberapa hari ini aku sempat mikir tentang keajaiban Do'a, terutama doa orangtua. Mikir lagi ternyata aku termasuk orang yang paling beruntung yang masih punya Orangtua lengkap. Alhamdulillah.

Berkat Doa yang gak pernah putus dari sang orangtua, si anak terus terjaga dalam langkah hidupnya. Akalnya terjaga, hatinya terjaga, pikirannya terjaga, jiwanya terjaga, kehormatannya terjaga.
Belum lagi segala keberuntungan yang datang berkat doa mereka. Keberuntungan terhindar dari marabahaya, keberuntungan dapat peluang, keberuntungan dapat jodoh yang baik agamanya, keturunan dan hartanya insya Allah. Dan masih banyak lagi yang tanpa disadari kita akhirnya terselamatkan berkat doa orangtua.

Walaupun orangtua gak bisa ngajarin semua hal terhadap anaknya karena gak semua orangtua mengikuti perkembangan zaman karena satu dan lain hal, karena kapasitas mereka juga beragam, waktunya terbatas, dan banyak faktor lainnya. Mereka juga gak bisa terus-terusan menjaga dan mengontrol anaknya. Tapi dengan keajaiban "Mantra" mereka alhamdulillah kita terlindungi.

Seorang anak yang "Bandel" akibat salah pergaulan, luntang lantung hidup di jalanan, lepas dari agama puluhan tahun dan orangtuanya tahu dan udah kehabisan cara buat nasihatin. Tapi tetap aja si anak "bandel", orangtuanya “gak bisa” ngapa-ngapain, karena itu udah urusan pribadi anak dengan Tuhannya, dan manusia gak bisa mengubah hati manusia lain. Sampai di momen, sang anak “kembali” pada jalan-Nya, dan menyadari “Dulu aku lost.! Hilang arah”. Ada doa orang tua yang akhirnya diijabah oleh Sang Maha pembolak balik hati.
Kekuatan Mantra Ajaib (Do'a)

Seorang anak dengan kemampuan nalar,  matematika, daya tangkapnya kurang. Diajarin apapun lama nangkepnya. Tapi dia selalu selamat dalam segala ritme kehidupan, tumbuh jadi manusia berhati lembut dan bahagia. Meski kurang, tapi jiwanya terjaga. Ada doa orangtua dibalik itu. Doa agar anaknya terlindungi, bahagia, dan bisa survive.
Kekuatan Mantra Ajaib (Do'a)

Begitu besarnya kekuatan "Mantra Ajaib" do'a orangtua. Coba bayangin, peluang buat gak bener itu pasti buanyaaaak sekali, ada dimana-mana. Cuma saat mau ngelakuinnya ada aja yang bikin gak jadi. Bahkan kadang-kadang gak minat juga buat milih jalan itu. Kalau dilihat ulang kebelakang, berapa banyak hal-hal buruk yang gak jadi diambil? Berapa banyak peluang-peluang terselamatkan dari bahaya? Berapa banyak peluang-peluang yang menyesatkan gak jadi dipilih dan malah bersyukur diakhirnya? Berapa banyak terselamatkan dari hal-hal jelek? Berapa banyak hal-hal di luar kendali manusia yang bisa dilewati? Banyak sekali pasti itu. Dan selamat. Itu semua bukan semata-mata kemampuan diri aja, ada doa orangtua yang bikin selamat, terhindarkan dari bahaya dan keburukan.
Masya Allah.

Orangtua yang sadar kalau sebaik-baiknya yang bisa dilakukannya dimulai dengan memberi makanan yang halal dari caranya yang halal. Karena sesuatu yang baik tumbuh dari hal kecil seperti sesuap nasi yang selalu diberi dengan cara yang halal akan tumbuh dan melekat menjadi darah daging pada fisik anak. Dan orangtua selalu mendoakan anaknya dalam perjalanan pendidikannya, kehidupannya, mereka terus berdoa untuk keselamatan anaknya dunia akhirat.

Dan semakin kesini, semakin paham cinta orangtua begitu besar dan gak akan tergantikan apapun. Yaa Apapun itu.!
Apalagi bagi yang sudah punya anak, bakal lebih bisa merasakan. Gak cuma berdasarkan logika, imajinasi dan empati lagi. Merasakan karena terlibat langsung dan berganti peran.
Saat satu orangtua meninggal, hilang satu keberkahan. Saat kedua orangtua meninggal, hilang dua keberkahan.
Keberkahan hidup, doa-doa yang menjaga kita hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang 😭😭😭

Semoga Allah memberi kesempatanku dan kita semua untuk membalas kebaikan orangtua, walaupun tidak pernah cukup untuk membalas jasa mereka. Tapi cukuplah Allah menjadikan kita sebagai anak yang berbakti sebagai bekal mereka menuju surga, bukan malah sebab kita, mereka jauh dari surga. Naudzubillah.
Dan semoga aku dan kita semua bisa menjadi orangtua yang baik dan benar untuk anak-anak kita nanti. Aamiin

Happy Friyay Night
Thanks Kanay❤

Monday, July 22

,
Kali ini aku mau ngobrolin tentang "ngobrol" lebih tepatnya ngomongin tentang "ngomong".
Pa an sih..?

Serius banget, santai aja kali hehe


Communication In A Relationship
Komunikasi dalam suatu hubungan.
Iya seberapa penting itu menurut kalian?
Kalau aku 100% komunikasi dalam hubungan itu penting.
Penting banget! Karena bagiku cara paling awal aku menilai kepribadian seseorang dari cara pertama kali dia diajak ngobrol atau diskusi.

Nah itu pentingnya membangun komunikasi yang baik dari awal interested sama seseorang atau lawan jenis.
Kalau dari awal komunikasinya gak baik dalam arti gak nyambung dan gak sepaham, gimana mau lanjut ketahap berikutnya?
Misalnya, lagi mau ngebahas Film yang baru aku tonton eh si doi malah gak nyambung bahas sampai kemana-mana ngelantur sampai ke politik misalnya. Kan udah gak klik, gak asik buat diajak diskusi, gak satu frekuensi.

Dalam hubungan juga gitu.
Aku sedari dulu paling gak bisa menjalani hubungan tanpa kabar sehari.
Walaupun sesibuk apapun itu manusia gak mungkin gak bisa sms, chat, atau miscall sehari sekali aja deh, pertanda dia nganggap keberadaan kita. Kita? iya deh Aku.
Karena menurutku di zaman sekarang manusia yang beneran sibuk 24 jam tanpa megang hp itu Nothing. Jadi itu cuma masalah seberapa penting gak nya dia dihidupmu. Kecuali misalnya sebelumnya emang ngabarin kalau ada tugas menyelamatkan Bumi yang mengharuskan tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun selama seminggu misalnya. It's oke gapapa, demi keberlangsungan kehidupan makhluk di bumi aku rela. (Misal yaa hehehe) Yang penting ngabarin sebelumnya.

Jujur aku juga jauh lebih gak suka sama cowok yang terus-terusan megang hp dan terakhir juga ngebuatku eneg harus ngeladenin dia mulu. Yaa sebatas wajarnya aja karena kita masing-masing juga punya ruang untuk bergerak.
Kalau ngeladenin dia terus, diatur dia terus, yang ada stuck hidup mu.
Kuncinya harus ngasih kabar paling gak sehari sekali.

Ketika ada di relationship yang menuju serius, Kita dan pasangan seharusnya udah bisa berpikir rasional. Enggak lagi mikirin cinta doang.
Harus tau menikah itu untuk apa, dan tau kedepannya bakal kaya gimana.
Kudu mesti bisa punya komunikasi yang klop soal masa depan, punya satu tujuan yang sama.
Ini kunci sih menurut ku.. (sotoy banget dah)

Beda interested, beda personality, itu wajar. Karena gak ada orang yang Klop 100%.
Tapi walaupun banyak perbedaan jangan sedih. Kita bakalan tau dia jodoh kita apa engga nya ketika bersamanya kita jadi diri sendiri bukan jadi orang lain yang dia inginkan.
He/she let me to be my self but he/she push me to be better! itu sih menurutku.
Ketika bersamanya sama-sama mencoba untuk berubah jadi yang lebih baik dan terbaik baginya.
Yang penting harus pintar-pintar nyeleksinya gimana, jangan sampai juga ngejalin hubungan sama orang tempramental. Sikap abusive saat pacaran walaupun cuma bentak atau ngomong kasar, ketika menikah itu bisa jadi lebih buruk loh. Malah bisa ke physical abuse.
Orang yang awalnya udah biasa ngebentak, ngomong kasar, dan juga orang yang terbiasa buat berbohong walaupun hal kecil. Jangan ngarep deh bisa berubah ketika menikah, yang ada makin parah tempramentnya, makin parah bohongnya. (Semoga Tuhan jauhkanYou deserve better!

Dulu zaman SMA nilai cowok selalu dari fisiknya, gapapa deh otaknya kosong, ngomongnya kasar,  tapi dia ganteng dan Famous.
(Najis banget deh dulu hahaha)
It's oke zaman Abege mah bodohnya natural gapapa dong, bebas.
Nah ini fase yang aku rasain sekarang, Fase dimana fisik nomor sekian,
Dan lebih mentingin pribadinya gimana, satu frekuensi obrolan apa engga.
Karena ya itu, kalau udah tua nanti, saat udah gak bisa apa apa, yang kita bisa lakuin cuma ngobrol. Kalau udah gak nyambung dari awal, ya bikin jengkel, malah kesel sendiri jadinya.

Tapi balik lagi, satu frekuensi. Komunikasi itu penting banget.

****

Ternyata orang yang tepat buatku adalah orang yang bisa diajak untuk diskusi dan ngobrol tentang semua hal apapun itu.
Yang gak pernah berasa ngabisin waktu ber jam-jam cuma buat ngobrol dan diskusi dari yang serius sampai yang absurd itu nyaman aja kalau dibahas selagi sama dia.
Fisik itu akan memudar pada waktunya. Sedangkan kalau misalnya nyari orang yang dari awal bisa buat ngobrol apa aja, bisa mau untuk berkembang sama-sama, itu tuh sampai kapanpun akan longlast.

Semoga kedepannya bisa menjalin komunikasi yang lebih baik.

Saturday, June 29

,

Akhirnya bisa nulis lagi setelah berkutat dengan segala macam "Tugas Negara" yang ngebuatku malas buat ngapa-ngapain termasuk ngurusin Blog ter-tjinta ini yang sepertinya sudah mulai bersawang karena kurang Perhatian.


Baiqlah.. Mumpung udah resmi jadi PNS Penganguran Nampak Setress Senang.
Ku berjanji akan merawat Blog ini minimal sebulan sekali lah yaa..


Kalau ditanya gimana perasaan setelah resign? Aku rasa semua orang yang udah ngerasa nyaman disuatu tempat pasti bakalan susah buat keluar dari tempat itu. Yaa sama kayak aku sekarang yang lagi coba buat move on.
Karena prinsipku untuk maju harus berani keluar dari zona nyaman dan mencoba sesuatu yang baru.


Betewe, walaupun sekarang lagi proses buat move on, aku ngerasa happy aja sekarang walaupun tetap ada sisi kekosongan didalam diri dan ngerasa ada yang "hilang"  yaa terkadang aku juga merindukan kesibukan itu,  dan sisi lain aku juga happy,  karna aku punya banyak waktu luang buat sendiri. Kelamaan sendiri aku juga gak sukaa.. 

Terus maunya apa?? 
Maunya dingertiin kamu 
(Hmmmm 🎢🎢 - Sabyan)
Intinya apapun itu aku mencoba untuk bersyukur dengan garis kehidupan yang udah Allah atur.

Kalau di-flashback nikmat yang udah Allah kasi gak bakal terhitung yaa.
Alhamdulillah aku sudah bekerja sebelum wisuda, punya pengalaman baru walaupun dulu pernah ngerasain magang, dan emang dari kecil juga udah dibiasain cari uang ditempat usahanya orangtua, tapi tetap aja rasanya beda sama kerja yang "nyata", ngalamin antusiasnya gajian pertama kalinya (walaupun nilainya tak seberapa) tapi happy-nya luar biasa, punya rekan-rekan kerja yang udah seperti keluarga.
Meskipun butuh adaptasi yang lama dilingkungan kerja.


Dan ternyata eh ternyata dunia kerja itu gak se-sempit yang aku bayangkan, dulu waktu zaman kuliah, bodohnya aku sempat nyepelein orang yang kerja, apalagi kerja yang pake seragam rapi tapi gajinya yang mohon maaf untuk belik bedak aja gak cukup. 

Sombongnya aku😩
Tapi itu duluu...

Sekarang alhamdulillah udah sadar, menurutku kerja itu semata-mata bukan hanya untuk uang. Yaa walaupun 100% manusia suka uang. Tapi ada rasa kepuasan diri ketika bekerja apalagi kerja yang sesuai passion-nya. 
Guru Non PNS contohnya yang rela digaji 3 bulan sekali, itupun masih ada potongan. 
Dan mereka sukarela bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali. Kenapa? Karena tujuan mereka bukan hanya bekerja untuk uang tapi menyalurkan ilmu yang mereka miliki adalah suatu hobi yang rela tidak dibayar karena emang Passion-nya di dunia pendidikan. 
Karena kalau udah cinta sama suatu pekerjaan walaupun lelah pasti ada rasa kepuasan tersendiri apalagi lelahnya dibayar.. Alhamdulillah banget.

Waktu kuliah dulu aku juga suka bertekad kalau suatu hari nanti kerja aku mau disiplin dan semangat kayak orang-orang Korea.

(iyeee korengan selalu jadi panutan) 
Karena di Drakor kebanyakan mereka yang masih magang aja rela mati-matian disuruh ini-itu bahkan ngurusin sampah sekalipun, belum lagi budaya senioritas di kantor yang harus siap mental buat dibentak dan dibully. 
Tapi mereka ikhlas  aja ngejalaninya.. 
Saluuut daaah.!

Tapi realitanya jauuuuh beda, jangankan mau semangat kerja kayak orang-orang Korea. Alarm pagi aja di-skip lanjut tidur, ketemu kasur geletakan, ketemu yang empuk dikit selonjoran.
Hadeeh.. Kenawhy tulang +62 tu lembek amaat..!


*****

Pada akhirnya memang semua itu kembali lagi kepada pilihan masing-masing yaa, ada yang memilih untuk bekerja karena emang kebutuhan dan tuntutan ekonomi, ada yang bekerja karena bentuk pengabdian diri kepada masyarakat misalnya, dan ada yang milih tidak bekerja karena dirumah aja dikasih uang ngapain capek-capek harus kerja.  Semua itu tergantung sama pribadi masing-masing.
Kalau aku memilih untuk bekerja karena aku butuh pengalaman, butuh lingkungan baru, butuh mengenal orang-orang baru yang hidupnya bisa diambil pelajaran, butuh uang juga dong pastinya.. πŸ˜ƒ 

Dan butuh tantangan baru untuk mewarnai pait manisnya hidup ini. (Haaseeeq) 
Paling enggak ada yang diceritain nanti sama anak-anakku kalau emaknya juga pernah berjuang untuk sesuatu yang diimpikan jadi gak boleh manja dan cengeng.

*****
Sementara menunggu panggilan dibeberapa tempat dan menunggu "kartu ajaib" yang katanya pengangguran bisa digaji 
πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ 
Tapi realistis aja lah yaa, gak usah laah menunggu hal yang tak pasti karena rasanya itu sakit sampai ke empedu. 
Jadi saat ini jalani hidup dengan santai aja dulu tapi pasti tidak terburu-buru karena Dunia Ini Semua. 
Jangan berlebihan dan tidak boleh kekurangan, harus PAS.
Hahaaha Closingnya gak nyambung yaa. Tapi intinya ya begitulah Dunia πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„




*upaSpace*

Monday, February 25

,

Ulpa Lupa Ulpa Lupa Ulpa Lupa..! 

Yaa semacam sugesti dari lahir bahwa aku ditakdirkan menjadi seorang yang pelupa.
Tapi emang bener sih, mungkin ketika pembagian Ram Otak aku cuma kebagian 200 Mb.
100 Mb udah kepake buat nyimpen janji manis dan tak manis.
Sisa 100 Mb lagi kepake buat Drakor. Loh Lah Loh.. (iyain ajadeh pokoke)

Yang jelas menjadi seorang yang pelupa itu sangat melelahkan.

Lupa = Lemot

Ketika seorang lawan bicara mengingatkan berbagai macam peristiwa kejadian kepada si-pelupa (aku) spontan otak mulai sibuk mencari file-file yang dimaksud.
Menyebabkan sel-sel otak menjadi sibuk tak terkendali sehingga menimbulkan ke-lemotan. 
(ini ngomongin apaseh?)

Dan hipotesis tersebutlah yang mendukung bahwa 9 dari 10 lawan bicaraku, beranggapan aku manusia terlemot di muka bumi ini. Dan mungkin bisa masuk kategori  7 Manusia Dengan Otak Terlemot versi On The Spot.

Betewe 9 dari 10 sisa 1, siapa sih 1 itu? Dialah orang yang selalu sabar dengan segala kekuranganku yang tak pernah mengeluh, selalu luluh. Siapakah si-satu itu? Mungkin kamu.! Hehehe

Ternyata faedah menjadi seorang yang pelupa itu juga ada lho..
Alhamdulillah aku termasuk orang yang gak terlalu memikirkan apa kata orang. Apalagi orang yang tak berkepentingan. Jadi aku gak perlu susah payah untuk nyimpan hal-hal negatif itu kedalam hati karena otak mungilku terlalu padat untuk mentransfernya ke hati.

Kadang aku suka salut sama orang yang gampang ingat sesuatu secara detail. 
Bahkan kayak hal kecil semisal sampai hapal kemaren seseorang pake baju apa, warna apa, sepatunya apa dan detail-detail kecil lainnya.
Lah aku? boro boro ngingat outfit orang, outfit sendiri aja kadang sering lupa.

Ohh iyaa satu lagi, aku paling suusaaah ngingat jalan, nama orang, dan bentuk wajah orang. Karena itu teman-teman disekitar suka naik darah kalau lama-lama berinteraksi samaku. (hahaha maafkeun aku gaaees)

Jadi faedahnya menjadi pelupa adalah otak mungilku hanya menyimpan segala yang bersifat crucial. (Thank's tiny brain)



Ini adalah postingan pertama di tahun 2019 dan FYI it's my birthday! Biasa aja sih sebenarnya, semakin dewasa malah semakin tidak ingin ulang tahun. Karena takut menua😒 postingan tentang ulangtahun 2 tahun yang lalu pernah aku posting disini

Menurutku arti sebuah umur hanyalah akumulasi angka dari lamanya jiwa mendiami raga.
Umur bertambah berarti tanggung jawab bertambah, dan pastinya jatah hidup berkurang.
Semoga dengan bertambahnya usiaku, bertambah baik juga akhlak ku. Dan dilimpahkan segalanya yang baik-baik dari Sang Maha Baik.
Semoga kelak di akhirat kita tidak malu dengan Allah SWT karena tidak menggunakan umur kita dengan sebaik-baiknya.

Bismillah for new chapter...πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡
.
.
.
.
.
daaan semoga dengan bertambahnya usia tidak menjadi bertambah lupa.. LOL πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚