Saturday, June 9

Kapan?

Saat kuliah ditanya, kapan wisuda?
Selesai wisuda ditanya, kapan kerja?
Dapat kerjaan ditanya, kapan nikah?
Setelah menikah ditanya, kapan punya anak?
Anak udah gede ditanya, kapan punya mantu?
Udah dapat mantu ditanya, kapan gendong cucu?
Dan pertanyaan kapan-kapan seterusnya tidak akan pernah berhenti ditanya sampai upin-ipin tamat TK.
Yaa memang seperti itulah siklusnya kehidupan manusia yang jika aja sedikit terlambat dari perputaran manusia normal lainnya, bersiaplah untuk dibombardir dengan pertanyaan kapan, kapan dan kapan itu!

Dan dari segala rentetan pertanyaan, jujur aja pertanyaan KAPAN NIKAH inilah yang bikin bulu kuduk merinding bagi para jomblo fisabilillah diluar sana termasuk aku. Horrorable!

Sebenarnya aku perempuan yang sangat ingin menikah di usia muda. Dulu.. I thought, no, I mean, aku pengen nikah diumur 20 atau paling tua 23. Sekarang, aku dipertengahan umur 20 and 23 but the desire is gone, somewhere I don’t know.
Rasa-rasanya untuk menikah diumur yang sekarang aku belum yakin bisa siap.
Ya kecuali ada bule muslim yang taat rajin sholat, sayang keluarga, penyabar, penyayang apalagi tidak merokok, rajin kerja dan rajin sedekah tetiba datang nyamperin ke rumah terus ngajakin nikah. Of course i'll say Yess..!
Wkwkkw bercanda yaa
(kalau ada juga Alhamdulillah banget)



Oke back to the topic KAPAN?
Wallahualam..


Nyatanya pernikahan itu menurut seorang yang belum pernah menikah ini tidak mungkin segampang itu kan?
Tidak mungkin oke main bungkus aja. 
Karena pernikahan itu nggak se "kacang" pacaran, pernikahan nggak seenteng itu. Dan nyatanya lamanya pacaran tidak menjamin keawetan rumah tangga itu sendiri. (Bagi kaum pacaranisty yang belum siap menikah sudahlah mending belajar memantaskan diri aja deh dulu)


Se-sok tau-an aku pernikahan juga bukan peralihan daripada pacaran mending nikah. Maksudnya yaudah nikah aja deh daripada pacaran jelas haramnya. Memang bener, tapi alasannya itu nggak apple-to-apple menurutku. Esensi pernikahan itu akan hilang jika pernikahan ini sendiri menjadi pengganti daripada pacaran. Padahal di dalam pernikahan itu ada sebuah nilai besar yang harus dijaga yaitu "BERTANGGUNG JAWAB". (sengaja di capslock biar jelas)

pernikahan adalah sebuah upacara sakral penyerahan tanggung jawab antara seorang ayah kepada seorang suami yang disaksikan oleh Allah dan para malaikat. Yaa se-crucial itu. Padahal dulu aku sempat menganggap perkara sekali seumur hidup ini In Sya Allah adalah perkara enteng dan jujur aku menggampangkannya. Cuma nyebut Saya terima nikahnya dengan mahar bla bla bla.. And then SAH!


Pastinya untuk menggabungkan dua anak manusia dengan latar belakang yang sangat-sangat jelas berbeda bahkan bisa jadi bertolak belakang itu, gimana caranya agar bisa jadi satu visi dan misi.
Dan semakin kesini, semakin aku berfikir lagi bahwa menyatukan keduanya itu tidak mudah, terlebih lagi di usia yang terhitung muda. Tapi bukan berarti aku meratakan semuanya bahwa yang muda belum siap menikah. Bukan gitu yaa.. At least, kembali ke pribadi masing-masing yaa. Karena setiap individu punya penilaian dan sudut pandang sendiri.

Menikah tidak semudah membeli gorengan dan tidak sesulit mencari tabung gas 3 kg di bulan puasa ini.
jangan karena terus-terusan dibombardir pertanyaan kapan, kapan dan kapan itu menjadikan kita terburu-buru dalam melangkah. 
Bagi yang siap menikah dalam waktu dekat silahkan aku dukung dan doakan semoga sakinah, dan yang belum siap menikah bersiap-siaplah menyiapkan jawaban terbadas menjelang H-5 Lebaran.



(salam jomblo pasrah akan takdir Allah)


0 komentar:

Post a Comment