Thursday, April 19

Hidup Tanpa Gadget Ala Reply 1988

Beberapa hari belakangan ini aku memang mengurangi waktuku bersama "hengpon jadulku". Selain karena memang faktor semester tua yang mewajibkan harus kudu mikir banyak buat skripsweet.
Jadi, demi penunjang kelancaran berlangsungnya proses penggulatan skripsweet ini, maka aku memutuskan untuk mengurangi dunia perhengponan.

Mengurangi ketergantungan pada smartphone khususnya media sosial bagiku sebagai manusia yang hidup di era millenial ini sungguh prestasi.
Bahkan aku berharap suatu hari nanti aku benar-benar bisa melepaskan diri dari dunianya si Maya ini.

Ternyata mengurangi dunia perhengponan rasanya tidak ada yang kurang bahkan hidup terasa aman-aman aja. Lebih fokus kalau diajak ngomong sama makhluk nyataπŸ˜„
Dan yang lebih wow nya lagi, buku-buku di lemari yang udah kebeli beberapa bulan yang lalu bahkan ada yang bertahun lamanya finally kebaca juga. YeaaayπŸ‘

Jadi pertanyaannya hidup tanpa hp aku bisa atau tidak?

Jawabannya, Tidaaaak! 😁

Untuk zaman sekarang kayaknya kalau gak punya hp bakalan susah deh. Mau ngubungin Dosen lewat apa? Masa iyaa harus surat menyurat lagi, atau telepati via alam ghaib.
Kalau hidup tidak punya media sosial masih bisa.
Tapi paling tidak punya hp nokia yang cuma buat telpon dan sms, okelaah.
Sebenarnya kepikiran sih mau gantiin "si Samsul" (hengpon yang tak terlalu pintar)
Dengan Nokia zaman baheula πŸ˜ƒ
Tapi nanti aja deh tunggu jadi ibu rumah tangga kali yaa. Pake hp cuma buat ngubungi suami dan keluarga aja. (Lol πŸ˜‚)

Baiklah kembali kejudulnya kenapa ngomongin hp?

Jadi ceritanya aku baru nyelesain marathon drakor Reply 1988 yang sungguh sangat
T E R L A M B A T untuk ditonton. Ibarat kata udah basi buat diceritain ke orang-orang. Tapi gapapalah aku bakal ceritain sedikit bagi yang belum tau.

Bagi yang gak suka sama cerita lebay dan fantasy ala drakor, tenang drama ini tidak ada sosok chaebol songong gila harta dan upik abu yang menderita seperti drakor kebanyakan.
Cukup ringan untuk ditonton bagi anak semester tua sepertiku, disaat mata sudah lelah melihat tarian coding di android studio, dan susunan kata perkata di word.
Reply 1988 cukup buat jadi hiburan.

Yang belum nonton buruan nonton gih.. nanti keburu tua loh.
Tontonable!
https://id.pinterest.com/
Dan yang udah pada nonton pasti tau ini drama punya segudang pesan moral yang bisa dipetik. 
(Bunga kali ah dipetik)

Tapi beneran chingu...
Drama ini mengangkat kehidupan tahun 80-an di Korea Selatan yang ternyata gak jauh beda sama kehidupan madesu (masa depan suram) di Indonesia, misalnya tempat cuci piring duduk, sedotan minyak lampu, dan kehidupan ortodok lainnya.
Dan yang paling buatku berkesan adalah ikatan kebersamaan antara keluarga, persahabatan, dan para tetangga begitu solid.

Jujur aku sempat dibuat iri dengan kehidupan masa mudanya sung duk sun di tahun 80-an. Zaman dimana acara tv dan radio jadi hiburan, walkman jadi teman tidur.
Kehidupan yang sangat sederhana dengan hidup yang jauh lebih berwarna.

Ingin rasanya ku hidup di zaman baheula tanpa adanya teknologi modern seperti saat ini.
Mungkin hubungan antar orang-orang terdekat jauh lebih bermakna ketimbang sekarang.

Ntah kenapa aku merasa kehidupan dengan teknologi yang super canggih saat ini makin membuat manusia kehilangan jati dirinya.

Hematnya menurutku, kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern ini seharusnya punya penilaian lebih tinggi pada hal-hal kecil.

Misalnya hal kecil seperti basa-basi pada orang sekitar bukan basa-basi gak guna di dunia maya.
Setidaknya basa-basi bisa bikin hal besar semacam pertemanan kekal lebih lama.

Bayangin betapa banyaknya saat ini orang yang ngeremehin basa-basi misalnya pada lingkungan tetangga yang jarang bertegur sapa meskipun jarak rumah sejengkal, pada hubungan pertemanan yang kebanyakan sibuk dengan gadgetnya masing-masing dibanding teman ngobrolnya disamping, hubungan orangtua dan anak yang tidak dekat meskipun serumah.
Ntah lah.. yang jelas aku iri dengan kehidupan ala 80-an sung duk sun cs yang tak mengenal gadget.

Selain menceritakan kehidupan tanpa mengenal dunia per-gadgetan. Yang paling ngebuatku ngakak so hard di drama ini adalah disaat adegan berantemnya kakak beradik sung duk sun dan sung bo ra. Hahahha asli mirip kayak aku sama kakakku.
Si kakak sung bo ra yang pintar tapi hatinya dingin kayak vampire :D
Dan si adik sung duk sun yang bodoh dan kelewat ceroboh.
Aku benar-benar ngerasain gimana hidupnya sung duk sun yang selalu ngalah sama kakaknya. Yang rela ulang tahunnya dirayain barengan sama eonninya karena cuma beda hari. Sama percis kayak aku sama kakakku yang hari lahirnya cuma beda seminggu. Berantem gara-gara pakaian, berantem gara-gara ngomong kasar pake "Kau" ke kakak. Hahahha senasip samaku si sung duk sun ini.
(Rate : 9,7/10)

**************

Belakangan ini sebenarnya ada banyak hal yang pengen aku tulis. Tapi berhubung satu dan lain hal alias otak udah mentok di skripsi.
Jadilah, tulisan yang unfaedah dan absurd ini untuk diposting sebagai wujud rasa kehadiran diri ngepost sebulan sekali.πŸ˜πŸ˜„

0 komentar:

Post a Comment