Thursday, February 8

,
Ada banyak cerita dan kisah tentang titik balik seseorang ke kehidupan yang buat ia merasa lebih tenang dan titik balik itu disebut Hidayah.
Ada yang tertarik mendengarnya dan ada yang tidak peduli tentangnya.

Sebenarnya aku mau cerita sedikit tentang awal mula ketenangan jiwa yang Aku rasakan.
Aku menyebutnya "Taat Terindah".

Ceritanya gini, iya cerita aja dulu kita ya. (Itupun kalau kalian mau dengar😁)

Jadi, dulu itu aku sekolah dari SD sampai SMA di sekolah yang umum. Diantara keluargaku cuma aku sendiri yang sekolah umum, yang lain sekolah agama. (Cengkal sih jadi anak)
Tumbuh seperti remaja pada zamannya dengan pola pikir agama ala kadarnya.
Islam yang ku jalani dulu hanya sebatas sholat selagi sempat, ngaji kalau disuruh, dan puasa karna baju lebaran.
Iya begitu jahilnya aku dulu.

Sempat dulu aku dinasehatin sama Ayah jangan sampai jadi Islam Liberal karena debat kecil masalah FPI sama Ayah, yang menurutku pada saat itu ormas agama yang kasar.
Aku ngerasa biasa aja kalau banyak orang yang berbuat maksiat karna itu urusan dia dengan Tuhan.
"Yaudah sih kalau mereka mau ngejudi, ngerampok, atau berzina, biarin aja gak perlu dicampurin toh yang rugi mereka sendiri". (Jahilnya aku dulu😢)

Padahal kalau kita ngebiarin orang terus-terusan sesat dan maksiat, yang ngerasin dampaknya bukan cuma mereka yang berdosa tapi kita.
Kalau Allah udah murka di suatu negeri, yang ikut ngerasain azabnya Allah siapa kalau bukan kita?
Apa belum cukup kisah kaum Nabi Luth yang Allah binasakan di Kota Sodom?
Atau perlu di ceritakan lagi tentang kemurkaan Allah kepada Firaun dan pengikutnya yang Allah tenggelamkan di Laut Merah?
Naudzubillah, jangan sampai Allah murka kepada kita dan jangan sampai kita menjadi orang-orang yang melampaui batas.
(Nope. Never have)

Kalau sekarang masih gak suka sama FPI jadi termasuk orang yang bodoh lah aku.
Astaghfirullah...

Ternyata Islam yang ku jalani dulu tidak pernah membuatku tenang!
Sholatku hanya karena dipaksa sama orangtua bukan atas dasar kewajiban haknya Allah.
Ngajiku hanya sebatas bacaan bukan menjadi pedoman.
Begitu juga dengan puasaku dulu hanya sebatas menahan lapar dan haus bukan karena belajar menahan hawa nafsu.
Tentang hijab pun masih seperti kulkas yang sering ditutup dan dibuka.

Alhamdulillah atas izin-Nya sekarang aku jauh lebih mengenal agamaku dengan baik.

Sejak kapan?

Sejak aku sadar bahwa aku tidak boleh terus-terusan menjadi orang yang awam. Apalagi awam dengan agama sendiri.

Sejak aku sadar bahwa batu nisan bukan cuma diperuntukkan kepada orang yang sudah tua.

Dan sekarang alhamdulillah aku sadar, bahwa sholat bukan sekedar bacaan dan gerakan.
Nikmat dan ketenangan didalam sholat itu MAHAL dan tidak pantas dibandingin dengan nikmatnya karokean yang katanya bisa menenangkan pikiran.
Dulu ninggalin sholat biasa aja. Alhamdulillah sekarang Allah kasih perasaan gelisah dan galau kalau belum sholat. (Baiknya Allah rindu kepada kita setiap saat)
Bukan Allah yang butuh kita untuk sholat menyembahnya. Tapi kita lah yang selalu membutuhkan-Nya.

Dan sholat juga wujud rasa syukur dan tempat kembali segala rasa seorang hamba kepada sang penciptanya. Seperti rasa cinta, sedih, bahagia, kecewa, bimbang, gelisah tak terarah, apapun itu sholatlah obatnya.
Jadi kalau urusan sholat saja kita anggap  sepele, bukankah kita sangat pantas disebut manusia yang sombong?
Jangan sombong-sombong yaa.. apalagi sombongnya sama Alllah, jangan yaa.

Begitupun dengan hijab sebagai kewajiban muslimah yang harus kita patuhi.
Allah teramat sayang kepada kita dengan hijab yang menjaga kehormatan kita sebagai perempuan. Allah saja sayang dan peduli dengan diri kita, kenapa kita tidak??

Pernyataan lucu tentang hijab yang mengatakan "hijabin hatinya dulu baru kepalanya" , "mendingan gak berhijab daripada pake hijab tapi hati masih kotor". Astaghfirullah..
Pernyataan itu pasti sering kita dengar.

Kucing aja bisa ngebedain mana daging dan mana tulang.
Yaa masak kita sebagai manusia gak bisa ngebedain mana baik dan mana yang buruk. Satu hal yang aku tau, wanita baik pasti dia berhijab. Masalah akhlaknya buruk biar menjadi urusannya dengan Allah. Kita tidak pernah tau iman seseorang bisa jadi dia jauh lebih taat daripada kita setelah Allah kasih hidayah. Doakan saja😊

Kita tidak perlu menghakimi hidup seseorang. Baik itu masa lalunya yang kelam bahkan hina. Biarlah itu menjadi urusan sang pencipta.
Biarlah Allah bekerja dengan cara yang misterius. Kadang keras, kadang lemah lembut, kadang dengan air mata, kadang dengan kebahagiaan, kadang dipaksa, atau karena pilihan.
Hidup selalu menarik untuk di ikuti.
At the end of the day my "spritual journey" brought me here.
Alhamdulillah.

Karena sungguh aku sangat sadar kalau aku sangat bodoh dan tidak sempurna. Jauuuuh dari sempurna dengan segala kebodohan, kekurangan dan kesalahan yang telah aku perbuat baik disengaja maupun tidak sengaja. Aku cuma orang biasa yang kadang bisa benar dan saaangat bisa salah. Aku adalah salah satu orang yang Allah kasih kesempatan untuk belajar dan menurutku belajar bisa dimana saja dan dengan siapa saja selagi ada kemauan.

I love Allah and my faith is Islam, has always been Islam and i hope when i die di mata Allah SWT. Aku dianggap menjadi "Ulfatu Wirdah" yang terbaik di mata-Nya.
Aamiin...

Apakah aku pantas masuk surga?
Biarlah itu menjadi urusan-Nya. Aku rasa tujuan akhir semua manusia ketika mati untuk masuk surga. Dan gak ada juga manusia yang punya cita-cita mati masuk neraka kan?? 😁
Yaa mudah-mudahan kita semua In sya Allah masuk surganya Allah, berkumpul di surga bersama orang-orang yang kita sayangi di dunia.
Bukankah itu puncak dari nikmat terindah setelah taat terindah?

Masya Allah.. ❤