Babbling Space ║ Ulfatu Wirdah

One Kind Word Can Change Someone's Entire Day

Tuesday, October 19

Hustle Culture

"Gila seminggu ini cuma tidur 5 jam"
"4 hari ini lembur pulang pagi terus"
"Parah sih tahun ini aku gak bisa ambil cuti"

Sering dengar kalimat-kalimat itu?
Antara ngeluh sama pamerin kesibukan beda tipis yaa.
Fenomena ini disebut Hustle Culture, orang-orang yang harus sibuk terus, kerja dimanapun berada dan kapanpun. Karena dengan bekerja keras mereka menganggap bisa sukses, sementara orang yang banyak rebahan dicap pemalas dan malas pangkal miskin. 
Sebagai member premium kaum rebahan aku merasa "hmm, oh gitu".

Balik lagi ke orang-orang yang Hustle ini terpaksa untuk multitasking. Mau gak mau sambil makan di depan laptop, lagi ibadah mikirin klien, bahkan weekend tetap on.
Awal fenomena Hustle Culture ini muncul saat maraknya perkembangan startup kayak di Silicon Valley ada Mark Zuckerberg, Steve Jobs dan kawan-kawan.
Para millioner ini selalu menyuarakan kalimat pecutan semangatnya kayak "Stop whining. I'm grinding when you're sleeping"
Kalau kata Elon Musk di twitternya "There are way easier places to work, but nobody ever changed the world on 40 hours a week. But if you love what you do, it mostly doesnt feel like work".
Intinya orang-orang yang kerja 40 jam seminggu 
gak akan bisa merubah dunia, tapi jika kamu mencintai pekerjaanmu itu gak akan seperti bekerja.
"Hmm oke om Elon"

Beberapa faktor yang menyebabkan seorang menjadi Hustlers

1. Social Media
Fb, Ig, Twitter, Tiktok, be like : "Salah terus aku".
Gak menutup kemungkinan saat ini orang-orang pada celebrate kesibukannya udah kayak tren. 
Berlomba-lomba menampakkan kerja keras dan hasilnya.
Meeting kesana-kemari, ketemu klien ini itu, traveling kesana kemari, punya aset ini itu. Menjadikan semuanya harus obsesi dengan kata produktifitas dan sukses.

2. Toxic Positivity
Kata-kata semangat itu bagus dan dibutuhkan, tapi kalau udah jadi toxic itu gak sehat.
Contohnya : "Jangan nyerah kamu pasti bisa. Ayo kerja lagi"
"Masa gitu aja capek? Kapan mau suksesnya?"
"Semangat lemburnya, Ayo romusha bersama.!"
Bentuk kata-kata "eksploitasi" perusahaan kepada karyawannya yang belum tentu bisa kaya, malah yang lebih kaya Bossnya yang bekerja lebih sedikit.
Toxic Postivity memaksa manusia tetap tegar walaupun dalam kondisi tersulit sekalipun. Pada akhirnya kesehatan mental pun jadi terbaikan. 

3. Tuntutan Hidup
Bentuk nyata kesalahan apa yang dikatakan Elon diatas bahwa diluar sana ada begitu banyak orang-orang yang hidupnya udah kerja mati-matian punya lebih dari beberapa pekerjaan yang gak kepikiran mau merubah dunia. Keluar dari garis kemiskinan aja mereka gak bisa. Kesuksesan seseorang tidak murni karena talent dan kerja keras mereka disamping adanya privilege dan keberuntungan.
Bagi orang yang udah kerja mati-matian mau gak mau karena gak ada pilihan. 
Pemerintah bahkan tidak menyediakan kebutuhan dasar seperti pendidikan yang murah, jaminan kesehatan, rumah layak huni bahkan air bersih. 
Belum lagi ada tanggungan keluarga seperti anak, istri/suami. Lunasin hutang keluarga, sekolahin adik-adik dan macam-macam tuntutan lainnya yang memaksa harus bekerja ekstra dan ekstrim.

Dampak Hustle Culture
Tahun 2016 tercatat ada lebih dari 2000 kasus bunuh diri di Jepang akibat work-related-stress.
Atau disebut dengan "karoshi" atau budaya kerja berlebihan yang sebabkan karyawan kelelahan hingga meninggal.
Kondisi stress akibat perkerjaan, banyaknya tanggung jawab yang dipikul, lingkungan kantor yang buruk serta kehilangan dukungan sosial mengakibatkan seseorang menjadi Burnout Syndrome. 
Hustle Culture tentu berdampak baik bagi orang yang punya powerfull dan kekuasaan.

https://pin.it/1M55PGV

Jadi harus gimana?
Seimbang. 
Harus ada keseimbangan antara urusan kerja dan pribadi. Jangan sampai kesehatan fisik dan mental terganggu, punya batasan kegiatan.
Seperti olahraga, istirahat yang cukup, relaksasi diri dengan menonton series. 
Misalnya dapat pelajaran hidup dari series Hometown Cha-Cha-Cha kisah si Hong Banjang lulusan SNU yang otomatis orang-orang punya ekspektasi lebih tapi dia memilih jalan hidupnya sesuai apa yang buat dia bahagia dan merasa cukup dengan apa yang dia punya. Zaman sekarang merasa cukup itu susah, akupun terkadang masih struggling dengan itu, disamping kiri kanan ambisi harus dapat ini itu. Walaupun teorinya udah tau tapi tetap aja gagal lagi. 
Gapapa, resiko manusia yang penting terus mencoba.


References :





No comments:

Post a Comment