Babbling Space ║ Ulfatu Wirdah

One Kind Word Can Change Someone's Entire Day

Thursday, March 18

Melawan Candu

Sadar gak kalau sebenarnya kita diawasi 24 jam oleh sistem dan data. (Ngomong apa sih?)
pinterest
The Social Dilemma
Film Dokumenter oleh Netflix yang menceritakan sisi gelap dari Sosial Media. 
Sisi gelap algoritma yang memanipulasi kita sebagai penggunanya. Membeberkan sisi gelap teknologi internet.
Film ini mengupas beberapa hal yang mengerikan sebagai dampak dari penggunaan Sosial Media, mulai dari pengawasan secara diam-diam terhadap aktivitas penggunanya serta perekaman dengan hati-hati hingga memanipulasi tampilan feed supaya kita tak bisa lepas dari Sosial Media.
Beredarnya informasi bohong (hoax) , interaksi antara individu yang semakin menurun, bagaimana iklan di internet bekerja dan berdampak pada pengaruh kesehatan mental manusia, hal-hal yang berhubungan dengan politik hingga kepentingan negara.
Sangat relate dengan pesta demokrasi 2019, 2 tahun yang lalu masyarakat menjadi terpecah belah oleh berita yang saling menjatuhkan lawan calon Presiden/DPR. Penggiring opini, pengalihan isu, hoax merajarela sampai sekarang.

Film ini disampaikan langsung oleh orang-orang di balik Sosial Media itu sendiri seperti, Tristan Harris, pimpinan dari Center for Humane Technology yang juga mantan desainer Google. Justin Rosenstein, penemu tombol like di Facebook. Tim Kendal, mantan pimpinan di Pinterest, dan Cathy O'Niel, mantan Direktur Monetisasi Facebook.
You never realize you're addicted until you try to quit.
Kamu tidak pernah menyadari bahwa kamu kecanduan sampai kamu mencoba untuk berhenti.
Setelah nonton The Social Dilemma, dan dulu sempat mengikuti beberapa konten/talkshow dari Marissa Anita di Greatmind , aku kembali memutuskan untuk Puasa Sosial Media.

Beberapa tahun yang lalu ketika kuliah, aku pernah coba puasa Sosial Media demi kelancaran pengerjaan skripsi, walau cuma beberapa hari tapi cukup sebagai Dopamine Detox untuk mahasiswa tingkat akhir pada saat itu
Pencapaian sekarang aku berhasil menonaktifkan akun facebook ku hampir 2 tahun.
Aku merasa jauh lebih tenang dan memori otak terasa lebih longgar karena gak mikirin beberapa masalah umat facebook lagi.
Sekarang aku baru 3 hari puasa Sosial Media.
Aku menghapus aplikasi Instagram dan Twitter.
2 aplikasi yang paling besar candunya menurutku.
Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu sekitar 5 sampai 7 jam hanya untuk scrolling Instagram dan Twitter. Setiap hari.
For what ? Nothing..

Dulu aku memiliki sifat cukup narsis.
Sifat Narsis sebenarnya ada di semua orang, tapi jika jumlahnya berlebihan, maka akan menjadi yang namanya “Personality Disorder”. Narsisme sebenarnya mencakup hal yang luas, tidak hanya soal suka berfoto dengan gaya macam-macam, tapi merupakan sebuah cara berpikir. 

Beberapa contoh dari orang narsis adalah:
  • Merasa dirinya lebih unggul dari orang lain
  • Ingin selalu dianggap lebih tinggi walaupun tidak ada prestasi
  • Memilik sikap yang sombong dan merendahkan orang lain
  • Terobsesi dengan kecantikan, kesempurnaan dan semacamnya
  • Suka iri terhadap orang lain
  • Melebih-lebihkan diri sendiri

thinkstock
Jadi sebenarnya narsisme itu bukanlah sesuatu hal yang ringan, tapi merupakan sebuah kepribadian yang ada pada setiap manusia yang akan menjadi tidak sehat bila sudah berlebihan. Dan pemutus rantai narsisme tentu saja dengan berhenti atau mengurangi penggunaan Sosial Media itu sendiri.

3 Dampak Negatif Sosial Media
▪️Membandingkan hidup dengan orang lain
Ini sudah sering, tidak dipungkiri pasti selalu ada rasa iri dengan kehidupan orang lain yang diperlihatkan dari Sosial Media mereka.
▪️Menginginkan atensi dan perhatian orang lain
Like is addictive. Ketika posting sesuatu dengan mendapat like/viewers sedikit atau mulai berkurang, perasaan sedih dan khawatir mulai muncul. 
Apa ada yang salah yaa..?
Sampai kapan u let everyone to control yourself. Haa??
▪️Menurunkan produktivitas
Waktu luang yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang lebih produktif jadi ketarik sana-sini dengan sajian informasi baik berita "sampah" ataupun "daging". Menguras waktu dan pikiran dengan hal yang tidak mendatangkan manfaat. 

Tidak semua orang menganggap ini suatu masalah
Awalnya aku merasa baik-baik saja, aku menikmati scrolling di berbagai macam platform. Aku terhibur dengan berbagai macam konten yang disajikan, baik foto, video ataupun tulisan. 
Ruginya dimana? 
Aku tidak mengeluarkan uang.
"If you're not paying for the product, you are the product"
Jika kamu tidak membeli produknya maka kamulah produknya.
Sadar gak kalau data kita dimanfaatkan secara bebas dan gratis. Sistem mengerti apa yang kita butuhkan, mereka akan terus merekomendasikan konten, akun yang pernah kita cari atau sukai, sistem merekam jejak kita. 
Fungsinya apa? 
Cuan lah..
Sistem butuh atensi dan waktu kita untuk mereka sisipkan adsense (iklan) disana. 
Kelemahanku menjadi lebih konsumtif dengan iklan yang ditampilkan di Sosial Media. Aku sadar itu gak sehat.
Aku mudah ke triggred.

3 hari ini aku mulai merasa tenang dan damai, otak ku sedikit isirahat dari segala macam sumber informasi.
Perlahan FoMO (Fear of missing out) bisa aku atasi.
FYI : FoMO adalah kecemasan sosial yang berasal dari keyakinan bahwa orang lain mungkin bersenang-senang sementara orang yang mengalami kecemasan itu tidak hadir. Hal ini ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain. Wikipedia

Aku mulai mencoba tidak peduli dengan informasi apa yang aku lewatkan, gosip apa yang lagi hangatnya, scandal apa yang lagi heboh. Aku mencoba untuk tidak peduli. Informasi yang aku tahu adalah informasi yang ada didepan mataku, disekelilingku. 
Kudet.?
It's ok, yang penting sehat dan tenang.

Kembali kepada diri masing-masing, apa yang kita butuhkan dan tidak butuhkan. 
Tidak mungkin juga kita kembali ke zaman batu atau hidup di Goa aja deh biar aman. Gak gitu juga konsepnya.
Seperti dua sisi mata uang. Selalu ada sisi positif dan negatifnya. Tidak dipungkiri Sosial Media juga sangat berguna untuk urusan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari kita. Dengan berbagai macam Platform E-Commerce yang memudahkan dalam proses jual beli. Semuanya ada, cepat dan praktis.
Bagi pegiat Sosial Media seperti Influencer sampai Olshop yang memang pasarnya di Internet, itu bagus dan terus lanjutkan.
Sosial Media berguna bagi orang yang tepat menggunakannya. 
Lagi-lagi kembali kepada diri masing-masing.

Jadi, aku puasa Sosial Media mau sampai kapan?
Coba seminggu dulu, 2 minggu, mungkin sebulan.
Sampai bener-bener tidak merasa ketergantungan lagi. Mungkin seperti makan junk food (indomie, gorengan dll)
Sesekali boleh, asal jangan setiap hari atau sampai jadi makanan pokok. Akan mengundang penyakit.
pinterest

Reference :

No comments:

Post a Comment